Rabu, 22 Agustus 2018

Tentang Said Nursi (Badiuzzaman)

Bediuzzaman adalah julukan untuk Said Nursi yang berarti "Keajaiban Zaman".

Dengan berbagai dimensi prestasi, kepribadian dan karakter sepanjang hidupnya, Said Nursi telah dan tetap menjadi figur penting dalam dunia Islam abad ke-20 berkat pengaruhnya yang kuat dan terus-menerus. Dengan cara yang sangat efektif dan luar biasa, dia sajikan kekuatan intelektual, moral dan rohani Islam yang telah muncul dalam berbagai tingkat berbeda selama sejarah Islam selama empat belas abad ini. Said Nursi hidup hingga usia 85 tahun. Dia habiskan sebagian besar usianya yang dipenuhi dengan kecintaan dan kebanggaan akan nilai-nilai Islam itu dalam kegiatan yang bijak dan hati-hati yang didasarkan pada pemikiran yang logis dan dalam naungan al-Quran dan contoh-contoh dari Nabi SAW.

Banyak diskusi dan tulisan telah membahas tentang cita-cita agung yang dikejar Said Nursi dan keakrabannya yang mendalam dengan dunia dan zaman di mana dia hidup, serta tentang kesederhanaan dan kesahajaan hidupnya, kelembutan manusiawinya, loyalitasnya kepada teman-temannya, kesuciannya, dan sifat rendah hatinya. Kendati demikian, setiap dimensi karakter dan kehidupannya yang melegenda itu masih tetap menarik untuk ditulis.

Meskipun penampilan fisiknya sangat sederhana, dia sungguh-sungguh asli dalam pemikiran dan perbuatan. Dia merangkul semua manusia, dia sangat menentang kemungkaran, ketidakadilan dan kekafiran, dan tidak pernah berhenti berjuang melawan semua jenis tirani meskipun dengan taruhan nyawa. Keyakinan dan perasaannya sama kuatnya dengan kebijaksanaan dan rasionalitasnya dalam memikirkan dan mendekati segala masalah. Dengan sikap yang mungkin bagi sementara orang terasa paradoksal, dia adalah contoh dari cinta, kebanggaan dan perasaan. Dia sungguh sangat seimbang dalam pikiran dan perbuatan dan dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, dia berpandangan jauh ke depan dalam menaksir dan menilai berbagai kondisi di sekitarnya, sebagaimana dalam mencari solusi masalah-masalah yang dihadapinya.

Di antara orang-orang seangkatannya, mereka yang mengenal Said Nursi mengakui, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, bahwa dia adalah pemikir dan penulis abad dua puluh yang paling serius dan paling penting di Turki, atau bahkan di dunia Islam pada umumnya. Terlepas dari fakta tersebut dan kepemimpinannya yang tak perlu diragukan lagi dalam membangun Islam di bidang intelektual, sosial, dan politik, dia tidak pernah membanggakan dirinya sendiri dan tetap menjadi hamba Allah yang bersahaja dan teman yang paling rendah hati di antara umat manusia. 'Hasrat akan ketenaran sama halnya dengan pamrih yang menjadi 'madu beracun' yang akan memadamkan kehidupan nurani dalam hati', adalah salah satu wejangan mulianya tentang kesederhanaan.

Dilahirkan di sebuah desa di pegunungan kecil kawasan timur Turki, Said Nursi menyuarakan keluhan dan ratapan dunia Islam secara keseluruhan, dan juga keyakinan, harapan dan cita-cita mereka. Dia berkata:

Saya bisa menanggung penderitaan saya sendiri, tetapi penderitaan akibat bencana yang menyeret agama dan umat Islam telah menghimpit saya. Setiap pukulan ke dunia Islam terasa terlebih dahulu menghujam ke hati saya. Itulah mengapa saya begitu terguncang.

Dia juga mengatakan:

Seumur hidup saya selama lebih dari 80 tahun, saya belum pernah mengenyam kesenangan duniawi. Hidup saya berlalu di medan perang, penjara atau tempat-tempat penderitaan lainnya. Mereka memperlakukan saya seolah-olah saya ini penjahat; mereka membuang saya dari satu kota ke kota lainnya, dan mengawasi saya terus-menerus. Tidak ada siksaan yang belum pernah saya tanggung, dan tidak ada penindasan yang belum pernah saya rasakan. Saya tidak peduli dengan Surga dan tidak takut pada Neraka. Asalkan keimanan negara saya aman, dibakar di nerakapun saya tidak peduli. Sebab, meskipun tubuh saya terbakar, hati saya seakan-akan berada di taman mawar.

Said Nursi hidup di masa ketika materialisme berada pada titik puncak kejayaannya dan ketika banyak orang menjadi gila akibat kemunisme. Dia hidup saat dunia mengalami krisis. Karena takjub dengan kemajuan sains dan militer Barat, juga akibat pengaruh tren-tren pemikiran modern, orang-orang di seantero dunia Islam terdorong untuk merusak akar kesejarahan mereka. Banyak di antara mereka yang kehilangan keyakinan. Pada periode kritis itu, banyak intelektual Muslim yang menyimpang dari jalan yang benar dan hanya menyandarkan intelektualitas mereka pada apa saja yang datang dari Barat atas nama ide. Saat itulah Said Nursi menunjukkan kepada masyarakat sumber keimanan, dan menanamkan pada hati mereka harapan yang kuat akan suatu kebangkitan yang menyeluruh. Dia menulis untuk menunjukkan kebenaran dari dalil-dalil keimanan Islam dan dengan heroik menentang gerakan-gerakan penyelewengan. Dengan kepasrahan yang luar biasa kepada Allah yang Maha Kuasa dan keyakinan yang sangat kokoh terhadap kebenaran Islam, juga dengan harapan yang agung untuk menyaksikan dunia Islam yang cemerlang, Said Nursi melakukan upaya yang luar biasa dalam ukuran manusia untuk memperjuangkan Islam dan membentuk generasi baru yang akan mewujudkan harapan-harapannya.

Di masa ketika sains dan filsafat digunakan para generasi muda ke arah ateisme, dan sikap nihilistik mempunyai daya tarik yang kuat, di masa tatkala semua hal tersebut dilakukan atas nama peradaban, modernisasi dan pemikiran kontemporer, dan siapa saja yang berani menentang akan disiksa dengan sangat kejam, Said Nursi memperjuangkan kebangkitan yang menyeluruh bagi semua umat manusia, membisikkan ke dalam pikiran dan jiwa mereka apa saja yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan modern dan tradisional serta mengadakan pelatihan-pelatihan rohani.

Dengan sikap seorang dokter yang ahli, Said Nursi mendiagnosa semua 'penyakit' masyarakat Islam, penyakit yang telah menjangkiti mereka selama berabad-abad di semua aspek kehidupan, dan memberikan kepada mereka penyembuh yang paling efektif. Berdasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah serta tradisi Islam yang telah berumur berabad-abad, yang berkembang dalam pikiran melalui fenomena alam, di mana masing-masing fenomena adalah bukti keberadaan dan keesaan Ilahi untuk mengisi 'sisir pengetahuan Allah' dengan madu yang diambil dari dalam fenomena-fenomena itu. Pertama-tama Said Nursi memusatkan usahanya untuk menjelaskan pilar-pilar keimanan dan ibadah, moralitas dan perilaku yang baik, dan akhirnya pada masalah-masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi umat Islam pada masa itu.

Masa saat Said Nursi hidup dan solusi yang ditawarkannya untuk menyembuhkan masalah lama dunia Islam

Said Nursi hidup di masa-masa akhir pemerintahan Usmani dan masa-masa pembentukan Republik Turki. Dia berkelana dari kota ke kota hingga ke pelosok terjauh negerinya, menyaksikan kebodohan, kemiskinan dan kefakiran serta konflik-konflik internal dan berbagai hasutan yang merajalela di sana dan di seluruh dunia Islam pada umumnya. Pada tahun 1911, dia berkhutbah di Masjid Umayyah di Damaskus. Sekitar sepuluh ribu jamaah termasuk seratus cendekiawan kelas atas memenuhi masjid untuk mendengarkannya. Pada khutbah yang terkenal dan historis ini, dia menyebut berbagai penyakit yang menjangkiti umat Islam di 'Masa Pertengahan' sebagai berikut:

Berkembangnya keputusasaan di antara manusia, hilangnya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik umat Islam, kegemaran pada kekerasan, kebodohan di kalangan orang-orang beriman, kelaliman di semua bidang kehidupan, dan ke-egosentris-an.

Untuk menyembuhkan penyakit ini, dia memberikan harapan, kebenaran dan kejujuran, saling cinta, konsultasi, solidaritas, dan kebebasan yang sesuai dengan Islam, dan menekankan tiga hal sebagai berikut:

Sejarah menunjukkan bahwa dahulu umat Islam maju peradabannya dan tinggi kepatuhannya pada kebenaran Islam; yakni mereka bertindak sesuai dengan ajaran Islam. Sejarah juga menunjukkan bahwa umat Islam mengalami kemunduran, bencana dan kekalahan saat kepatuhan mereka pada kebenaran Islam melemah. Berarti, sejarah menunjukkan bahwa ketika peradaban mereka maju dan semangatnya untuk mematuhi agama dan kepercayaannya menurun, maka mereka mengalami kemunduran dan kemandegan kekuatan untuk mematuhi agama dan keimanannya itu.

Ini terjadi karena kita umat Islam, para santri al-Quran, mengikuti bukti; kita tidak meninggalkan bukti hanya demi kepatuhan membuta dan kepalsuan pemuka agama seperti para pemeluk agama lainnya. Oleh karena itu, ke depan, saat nalar, nurani dan pengetahuan menjadi unggul, al-Quran akan mendapatkan pengaruh, yang berdasar pada bukti dan membutuhkan nalar untuk menegaskan seruan-seruannya.

Jika kita harus menunjukkan lewat perilaku kita kesempurnaan sikap moral Islam dan kebenaran-kebenaran keimanan, tak ayal lagi para pemeluk agama lain akan masuk dalam komunitas Islam yang menyeluruh. Bahkan beberapa daerah dan negara di muka bumi akan berbondong-bondong masuk Islam.

Pada masa hidup Said Nursi, sebagaimana saat ini, ketidaktahuan akan Tuhan yang Maha Kuasa dan Nabi SAW., ketidakpatuhan pada ajaran-ajaran agama, kelalaian pada dinamika kebahagiaan Islam di kedua dunia (dunia dan akhirat), dan kebodohan dalam hal sains modern, adalah faktor-faktor utama yang merongrong keberadaan umat Islam. Menurut Said Nursi, kalau umat Islam tidak mendapatkan pencerahan baik dalam hal sains maupun pengetahuan agama serta paham tentang cara berpikir secara sistematis, kalau mereka tidak dilindungi dari tren-tren pemikiran yang menyesatkan dan dibekali dengan pengetahuan sejati untuk menangkalnya, maka umat Islam tidak mungkin bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Kebodohan juga salah satu sebab miskinnya umat Islam. Karena selain mereka hidup dengan tidak menyadari kebenaran agamanya, mereka juga jauh tertinggal dari sains dan teknologi Barat. Inilah yang membuat lahan-lahan yang luas tetap tak tergarap dan kekayaan alami tanah-tanah Islam justru dikuasai oleh kelompok lain.

Kebodohan jugalah yang sangat bertanggung jawab atas konflik-konflik internal dan hasutan-hasutan dalam dunia Islam. Meskipun al-Quran dengan tegas menyerukan persatuan, tetapi umat Islam berkelahi dengan sesamanya, bahkan ini terjadi ketika tanah mereka direbut kekuasaan asing dan mereka menjadi sasaran segala bentuk penghinaan.

Sementara itu, para intelektual Muslim, yang diharapkan masyarakat bisa mendiagnosa masalah dengan jujur dan memberikan obat, juga terseret oleh badai 'penolakan' yang kejam oleh Barat. Badai ini telah muncul pada abad yang lalu, yang ditiupkan oleh orang-orang yang mendasarkan diri pada sains-isme, rasionalisme, dan positivisme. Akibat kontradiksi antara temuan-temuan sains dan ajaran Nasrani yang diselewengkan serta sikap gereja terhadap sains dan ilmuwan, Eropa nyaris kehilangan keyakinannya, dan konsekuensinya. Wahyu dikalahkan oleh nalar manusia. Badai penolakan ini, yang tak tertandingi sepanjang sejarah, menggoncang hingga ke akar-akar 'bangunan' Islam, yang telah tua dan membusuk di hati dan pikiran, baik pada diri orang per orang maupun pada kehidupan masyarakat Islam secara keseluruhan. Menurut Said Nursi, yang harus dilakukan adalah, sambil mempertahankan 'bangunan' ini dari pengaruh-pengaruh destruktif badai penolakan selanjutnya, menghadirkan pokok-pokok inti keimanan Islam beserta seluruh cabangnya, ke semua aspek kehidupan manusia modern, termasuk dalam kekuatan nalarnya. Agar masyarakat Islam yang sekarang kandas di samudera dunia modern itu bisa berlayar lagi dengan bebas, menurut Said Nursi, umat Islam saat ini memerlukan pembaharuan menyeluruh di semua bidang.

Alasan mengapa umat Islam jatuh dalam penguasaan kekuatan asing

Saat menjelaskan alasan jatuhnya kekuasaan Usmani pada Perang Dunia I dan dominasi Barat di seluruh dunia Islam, Said Nursi mengatakan:

Alasan mengapa takdir mendatangkan bencana ini kepada kita adalah karena kita lalai dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Sang Pencipta yang Maha Kuasa menghendaki kita mendirikan shalat lima waktu sebagaimana yang diwajibkan, yang hanya perlu satu jam dari dua puluh empat jam waktu kita sehari, tetapi kita ingkar. Sebagai gantinya, dengan mendatangkan pada kita empat tahun latihan, kesulitan dan mobilisasi terus-menerus, Allah mendorong kita ke suatu bentuk shalat. Allah menghendaki kita menekan nafsu dengan puasa satu bulan dalam setahun, tetapi kita merasa tersiksa kerenanya. Sebagai gantinya, Allah membuat kita puasa empat tahun. Allah juga menghendaki kita agar menyedekahkan seperempat puluh kekayaan yang Dia limpahkan pada kita untuk orang-orang miskin yang membutuhkan, tetapi kita kikir. Sebagai gantinya, Allah mengambil akumulasi zakat kita selama bertahun-tahun. Allah yang Maha Kuasa juga menghendaki kita menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup agar kita, selain mendapatkan manfaat-manfaat yang lain, bisa berkumpul dengan umat Islam dari seluruh dunia dan bertukar pikiran tentang masalah kita bersama, tetapi kita tidak melakukannya. Sebagai gantinya, Allah membuat kita bergegas dari satu front ke front pertempuran lain selama empat tahun.

Sedangkan tentang alasan mengapa orang-orang kafir menang atas orang-orang beriman, kita harus pikirkan empat hal berikut:

Pertama, meskipun setiap upaya kebenaran pastilah benar, tetapi tidak selamanya dianggap benar dalam kehidupan nyata. Sementara itu, tidak setiap jalan kesalahan dianggap salah. Karena kesalahan kadang-kadang mengikuti cara yang benar dan lurus, maka ia dapat menang atas kebenaran yang tidak mau mengikuti cara yang benar.

Kedua, meskipun setiap Muslim haruslah Muslim dalam segala sifat dan perbuatan, tetapi tidak selalu demikian dalam kehidupan nyata. Sementara itu, sifat dan perbuatan orang-orang yang durhaka atau kafir tidak selalu berasal dari kedurhakaan atau kekafirannya. Oleh karena itu, dengan bersifat dan berbuat sesuai dengan prinsip-prinsip Islam lebih daripada orang Islam yang tidak mau mempraktikkan Islamnya, orang kafir bisa menang atas orang Islam.

Ketiga, Allah memiliki dua jenis hukum. Pertama, syariah, yang diketahui oleh semua orang, yakni kumpulan hukum-hukum Allah yang berasal dari sifat firman-Nya dan yang mengatur kehidupan 'beragama' seseorang. Pahala atau hukuman akibat mengikuti atau meninggalkannya biasanya bertahan hingga di akhirat. Kumpulan hukum-hukum Ilahi yang kedua adalah hukum-hukum yang mengatur penciptaan dan kehidupan secara keseluruhan yang berasal dari sifat kehendak-Nya dan yang secara umum (tetapi salah) disebut 'hukum-hukum alam'. Pahala dan hukuman dari hukum ini kebanyakan bertahan di dunia ini saja. Al-Quran dengan tandas menyeru agar kita memperhatikan fenomena-fenomena alam, yang merupakan bidang garapan sains, dan menyuruh kita mempelajarinya. Selama lima abad pertama sejarah Islam, umat Muslim berhasil menggabungkan sains dengan agama, intelektualitas dengan hati, material dengan rohani. Tetapi, selama beberapa abad kemudian, Barat mengambil inisiatif dalam sains. Ini menunjukkan kepatuhan mereka, meskipun secara tidak sadar, kepada hukum-hukum 'alam' Ilahiah, yang membuat mereka bisa menguasai dunia Islam, yang umatnya gagal mempraktikkan aspek-aspek agama dan sains Islam. Kekuatan dan kekuasaan memiliki hak dalam kehidupan, keduanya diciptakan untuk tujuan yang bijak. Dengan dibekali dengan kekuatan dalam hal sains dan teknologi, Barat berhasil menguasai orang-orang Islam.

Keempat, kekalahan umat Islam adalah karena kebenaran telah ditinggalkan dalam keadaan lemah, atau telah dilumerkan, atau telah kehilangan kemurnian dan keotentikannya di tangan umat Islam. Seperti ditakdirkannya seekor elang untuk menyerang burung pipit, dan karenanya burung pipit harus mengembangkan kekuatannya untuk bertahan, Allah telah mengizinkan orang-orang kafir mendapatkan kemenangan dari umat Islam agar umat Islam berupaya kembali mendapatkan kemurnian aslinya dan kekuatannya.

Keimanan, ilmu tentang Allah dan ibadah dalam pemikiran dan perjuangan Said Nursi

Dengan anugerah kecerdasan dan kapasitas belajar yang luar biasa, Said Nursi telah menyelesaikan pendidikan madrasahnya pada usia empat belas tahun. Salah satu karakteristik hebat yang ditunjukkannya dari awal adalah ketidakpuasannya dengan sistem pendidikan yang ada. Dia rumuskan ketidakpuasan itu dalam suatu proposal pembaharuan pendidikan yang komprehensif. Pada intinya proposal tersebut mengawinkan sains religius tradisional dengan sains modern dan mengusulkan pembentukan universitas di kota-kota penting di Turki agar proposalnya itu dapat dilaksanakan. Meskipun dia telah dua kali menerima dana untuk pendirian universitasnya, dan pondasinya sudah dibangun pada tahun 1913, tetapi universitas itu tidak pernah selesai akibat Perang Dunia I dan pergolakan-pergolakan pada masa itu.

Tidak seperti para cendekiawan Islam dari abad-abad sebelumnya, Said Nursi dengan tekun mempelajari ilmu pengetahuan alam dan sosial, termasuk matematika dan filsafat. Pada Perang Dunia I dia menjadi tawanan perang Rusia selama dua tahun. Setelah berhasil lolos dan kembali ke Istanbul, dia mencurahkan usahanya untuk memperjelas sendi-sendi keimanan Islam. Perkembangan baru yang dahsyat di Turki, yang berpuncak pada pembentukan rezim sekuler, dan bangkitnya tren-tren anti-Islam serta sikap para intelektual dan anak-anak muda produk sistem pendidikan yang positivis dan bahkan materialis, mondorong Said Nursi untuk memusatkan usahanya pada pokok-pokok keimanan dan peribadatan serta tujuan-tujuan utama yang digariskan dalam al-Quran, yang dia paparkan sebagai penjelasan dan pembuktian atas keberadaan dan keesaan Ilahiah, kenabian, hari kebangkitan, dan perlunya peribadatan dan keadilan. Dia menjelaskan:

Yakinlah, bahwa tujuan tertinggi dan hasil termulia dari makhluk itu adalah keimanan pada Allah. Derajat kemanusiaan yang paling mulia adalah pengetahuan tentang Allah. Kebahagiaan yang paling bercahaya dan hadian yang paling manis bagi jin dan manusia adalah kecintaan pada Allah yang terkandung dalam pengetahuan tentang Allah; kesenangan yang paling murni bagi jiwa manusia dan kebahagiaan yang paling hakiki bagi hati adalah ekstase rohani yang terkandung dalam kecintaan pada Allah. Sesungguhnya, semua kebahagiaan yang sejati, kegembiraan yang murni, hadiah yang manis dan kesenangan yang nyata terkandung dalam kecintaan dan pengetahuan tentang Allah.

Keimanan tidak terbatas pada penegasan sesaat atas dasar taqlid (imitasi). Keimanan memiliki tingkat dan tahap perkembangan, seperti dari sebutir benih hingga menjadi pohon yang rindang dan menghasilkan buah, dari satu bayangan matahari pada setetes air hingga bayangan-bayangan matahari di seluruh permukaan laut dan sampai ke matahari sendiri. Keimanan mengandung begitu banyak kebenaran yang terkait dengan seribu satu dan nama-nama Allah serta realitas yang terkandung dalam alam semesta, sehingga sains, pengetahuan dan kebajikan yang paling sempurna dari manusia adalah keimanan dan pengetahuan tentang Allah yang berasal dari keimanan yang didasarkan pada argumen dan penyelidikan. Sementara keimanan yang didasarkan pada taqlid bisa dengan mudah dibantah lewat keraguan dan pertanyaan yang diajukan dengan pemikiran modern, keimanan yang didasarkan pada argumen dan penyelidikan memiliki banyak tingkatan dan derajat manifestasi nama-nama Ilahiah. Orang-orang yang mampu mencapai tingkat kepastian keimanan yang berasal dari pengamatan langsung terhadap kebenaran yang menjadi dasar keimanan, maka bisa mempelajari alam semesta ini sebagai al-Quran.

Sesungguhnya, al-Quran, alam semesta dan manusia adalah tiga jenis manifestasi dari satu kebenaran. Al-Quran, yang berasal dari sifat firman Ilahiah, bisa dianggap sebagai alam semesta yang ditulis atau disusun, sedangkan alam semesta, yang berasal dari sifat kuasa dan kehendak Ilahiah, bisa dianggap sebagai al-Quran yang diciptakan. Jadi, dari sudut pandang ini, alam semesta adalah pasangan dari al-Quran, yang tidak akan pernah bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, sekarang, saat sains berjaya, dan juga kelak, yang akan menjadi zaman pengetahuan, keimanan yang sejati harus didasarkan pada argumen dan penyelidikan, juga pada pemikiran yang terus-menerus terhadap 'tanda-tanda' Allah di alam semesta, pada fenomena 'alam', sosial, historis, dan psikologis. Keimanan bukanlah sesuatu yang didasarkan pada taqlid membuta. Keimanan harus terdiri atas intelektualitas atau nalar dan kalbu. Keimanan menggabungkan penerimaan dan penegasan nalar dan pengalaman serta penyerahan kalbu.

Ada tingkat keimanan yang lain, yakni kepastian yang datang dari pengalaman langsung dengan kebenaran-kebenaran keimanan. Ini tergantung dari keteraturan kita dalam beribadah dan berpikir. Orang yang telah menguasai tingkatan keimanan ini dapat menghadapi seluruh dunia ini. Jadi, tugas pertama, terutama dan terpenting kita adalah mencapai tingkat keimanan ini dan mencoba dengan kesungguhan demi ridha Allah yang Maha Kuasa untuk mengkomunikasikan dengan orang lain. Karena, sebagaimana tertulis dalam hadits, akan lebih baik bagimu jika mengetahui dunia ini beserta isinya sehingga orang akan menerima keimanan dengan perantara kamu.

Singkatnya, menurut Said Nursi, keimanan adalah memahami Islam secara keseluruhan.

Garis Besar Kehidupan Said Nursi setelah tahun 1925

Ketika pada tahun 1925 pecah pemberontakan di Turki bagian tenggara, dan diikuti di daerah-daerah lain, Said Nursi dikirim ke pengasingan dalam negeri dan menjalani sisa hidupnya, hingga wafat pada tahun 1960, dalam pengawasan ketat, di penjara, atau di kamp penyiksaan.

Said Nursi semula dipaksa tinggal di Barla, sebuah desa berbukit-bukit di barat daya Turki. Di sana dia menjalani kehidupan yang sulit dan terpisah dari hampir setiap orang. Tetapi dia berhasil mendapatkan hiburan, pelipur sejati, dengan mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Besar dan lewat penyerahan diri seutuhnya pada-Nya.

Bagian-bagian pokok dari Risalah An-Nur, The Words (Kumpulan Kata) dan The Letters (Kumpulan Surat), ditulisnya di Barla kala dia dalam kondisi sulit. Salinan karya-karya tersebut ditulis tangan dan mulai menyebar ke seluruh Turki. Metode perjuangan Islam ini mengundang reaksi dan kebencian pemerintah. Dengan tuduhan membangun masyarakat rahasia dan berupaya melawan pemerintah, Said Nursi dituntut hukuman mati dan 120 santrinya diadili di Pengadilan Pidana Eskisehin pada tahun 1935. Meskipun sepanjang hidupnya dia selalu menentang segala pemberontakan dan gerakan yang bermaksud memecah ketenteraman dan keteraturan masyarakat, dan selalu menandaskan bahwa hak-hak setiap orang tidak boleh dilanggar meskipun demi kepentingan seluruh masyarakat, dia dituduh membangun organisasi-organisasi rahasia yang bertujuan menghancurkan ketenteraman masyarakat. Ketika dalam persidangan dia ditanya pendapatnya tentang negara Republik Turki, dia menjawab: Biografi saya yang kalian pegang itu membuktikan bahwa saya ini warga negara republik yang religius bahkan sebelum kalian lahir ke dunia. Dia ditahan 11 bulan di penjara sebelum akhirnya diputus tidak bersalah.

Setelah dibebaskan, dia dipaksa tinggal di Kastamonu. Semula dia tinggal di lantai teratas kantor polisi itu, kemudian dipindahkan ke sebuah rumah tepat di seberangnya. Dia menetap di Kastamonu selama tujuh tahun, dan beberapa bagian penting dari Risalah An-Nur ditulisnya di sana.

Selama masa ini, baik dia maupun para santrinya (dari Kastamonu dan daerah-daerah lain) terus-menerus mendapatkan tekanan dari pemerintah. Tekanan tersebut kian lama kian meningkat, dan berpuncak dengan penangkapan besar-besaran dan pengadilan serta pemenjaraan di Denizli pada tahun 1943-1944. Dia dituduh membentuk tariqah Sufi dan mengorganisir masyarakat politis. Meskipun tuduhan itu akhirnya gugur, tetapi Said Nursi dikurung selama 9 bulan dalam sebuah sel yang kecil sekali, gelap dan pengap dengan kondisi yang sangat menyedihkan.

Setelah dibebaskan, Said Nursi dikirim ke kota Emidag, Propinsi Afyon agar menetap di sana. Pada tahun 1948 sebuah perkara baru dibuka di Pengadilan Pidana Afyon. Pengadilan memvonis dia dengan semena-mena, tetapi vonis tersebut dibatalkan melalui banding, dan Said Nursi beserta murid-muridnya dinyatakan tidak bersalah. Setelah itu dia berpindah-pindah tempat tinggal seperti ke Emirdag, Isparta, Afyon, dan Istanbul. Pada tahun 1953 dia diadili sekali lagi, kali ini dengan tuduhan menerbitkan A Guide for Youth (Petunjuk bagi Para Pemuda), dan kembali dinyatakan tidak bersalah. Pada saat wafatnya di Urfa, 23 Maret 1960, yang mungkin bertepatan dengan Lailatul Qadar, penyelenggara pemakaman menemukan peninggalannya berupa sehelai surban, sepotong pakaian, dan uang dua puluh lira. Peninggalan sejati yang tak ternilai dari pahlawan Islam dan kemanusiaan ini, yang pada saat meninggalnya hanya berbobot 40 kilogram, adalah Kumpulan Risalah An-Nur setebal 6000 halaman, yang telah diperkarakan di berbagai persidangan sebanyak sekitar 2000 kali hingga sekarang, dan prinsip-prinsip mulianya yang merupakan dimensi yang tidak akan bisa dicatat dalam catatan penyelenggara jenazah.

Kamis, 09 Agustus 2018

Rahmat dalam kematian

Pertanyaan: Diisyaratkan dalam ayat-ayat Quran misalnya, Dia menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya [Quran, 67: 2], bahwa kematian itu sesuatu yang diciptakan seperti halnya kehidupan dan karenanya menjadi rahmat bagi makhluk hidup. Sementara itu, kelihatannya kematian adalah pembusukan (dekomposisi) dan sepertinya mematikan sinar kehidupan dan menyebabkan tubuh yang hidup membusuk. Kematian juga menghancurkan kesenangan. Kalau begitu, bagaimana bisa kematian menjadi rahmat bagi makhluk hidup?

Jawab: Seperti yang kukatakan di akhir jawaban untuk pertanyaan pertama, kematian berarti pembebasan dari tugas-tugas hidup duniawi. Kematian juga berarti perubahan tempat tinggal dan perpindahan tubuh, dan juga undangan dan permulaan bagi kehidupan abadi. Karena dunia terus-menerus dihidupi melalui tindakan makhluk dan keputusan awal, maka dalam dunia yang lain terus dipisahkan dari kehidupan melalui beberapa siklus penciptaan, kepastian, dan kebijakan.

Kematian tanaman, sebuah tingkat kehidupan yang paling sederhana, membuktikan diri sebagai sebuah karya seni Allah. Kematian tanaman seperti kehidupannya, tetapi lebih sempurna dan dengan desain lebih baik. Ketika biji atau benih suatu tanaman "mati," benih itu tampak membusuk di dalam tanah. Tetapi, sebenarnya tanaman itu menjalani suatu proses kimiawi yang sempurna, melintasi keadaan pembentukan-kembali yang telah ditentukan, dan akhirnya berkembang menjadi sebatang pohon baru yang gagah. Ini menunjukkan bahwa kematian biji adalah awal kehidupan pohon baru, bahwa kematian adalah sesuatu yang diciptakan seperti halnya kehidupan. Dengan demikian, kematian sama sempurnanya dengan kehidupan.

Karena 'kematian' buah-buahan dan binatang dalam perut manusia menyebabkan mereka naik ke tingkat kehidupan manusia, maka 'kematian' mereka dapat dianggap lebih sempurna dibandingkan kehidupan mereka. Karena kematian tanaman, yang merupakan tingkat kehidupan paling sederhana, begitu sempurnanya dan mempunyai tujuan besar, maka kematian manusia tentu jauh lebih sempurna dan mempunyai tujuan yang jauh lebih besar, karena manusia setelah dikubur ke bawah tanah tentu akan dibawa ke kehidupan abadi.

Ada banyak aspek alasan kenapa kematian merupakan rahmat bagi umat manusia. Izinkan aku secara singkat menuliskan empat di antaranya:

Pertama, karena kematian membebaskan manusia dari kesengsaraan hidup, yang semakin meningkat sejalan dengan usia kita. Kematian juga membuka gerbang pertemuan kembali dengan sembilan puluh persen teman-temannya yang telah mati sebelumnya. Maka kematian adalah rahmat yang sangat besar.

Kedua: Kematian adalah rahmat karena kematian membebaskan kita dari kehidupan duniawi yang sama seperti penjara bawah tanah yang sempit, bergolak keras dan menyesakkan. Kematian membawa kita menuju lingkaran luas Kasih Sayang Allah yang Kekal, di mana manusia dapat menikmati kesenangan dan kehidupan abadi yang bebas dari penderitaan.

Ketiga: Usia tua dan kondisi yang tak tertahan lagi juga membuktikan bahwa kematian dapat menjadi rahmat yang lebih besar daripada kehidupan. Misalnya, seandainya orang tuamu dan kakek atau nenekmu hidup dalam penderitaan di depan matamu, engkau tentu akan mengakui betapa besarnya rahmat kematian karena hidup pun menjadi penderitaan tak tertahankan. Selain itu, sudah jelas bahwa kematian di musim gugur bagi serangga, yang begitu mencintai bunga-bunga indah, adalah rahmat bagi serangga itu karena kalau tidak mati, mereka akan merasakan kekejaman dan kesengsaraan musim dingin.

Keempat: Tidur membawa ketenangan dan perasaan lega, dan tentu saja rahmat, khususnya untuk orang-orang yang sakit dan terkena musibah. Demikian juga kematian, 'saudara kandung' tidur, adalah sebuah rahmat dan kasih sayang khususnya bagi mereka yang selalu didera kemalangan yang bisa membuat mereka bunuh diri. Tetapi, bagi orang-orang yang sesat, kehidupan dan kematian adalah siksaan, dan penderitaan yang tiada henti.


  • Dikutip dari salah satu buku Said Nursi, pemikir dan sufi besar abad 20, Risalah An-Nur yang berjudul Menjawab Yang Tak Terjawab Menjelaskan Yang Tak terjelaskan yang diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul The Letters 1 & 2.
  • Untuk memperingati meninggalnya orang tua kami, Bapak H. Muhamad Karya Subki yang meninggal pada tanggal 15 Dzulhijjah 1434 H. (5 tahun) dan Ibu Siti Zaenab yang meninggal pada tanggal 17 Syawal 1439 H. (40 hari).