Minggu, 29 September 2019

Jangan asal konversi dari Masehi ke Hijriyyah

Ketika kecil ibu saya mengatakan bahwa saya lahir pada tanggal 3 Rajab. Ketika saya sudah bisa menghitung sendiri bulan Hijriyyah baru saya ketahui ternyata saya lahir pada tanggal 1 Rajab, bukan 3 Rajab seperti yang dikatakan ibu saya.

Sekarang banyak aplikasi bulan Hijriyyah yang bisa dipasang di ponsel dan bisa digunakan untuk mengonversi tanggal Masehi ke Hijriyyah atau sebaliknya. Tetapi kebanyak dari aplikasi tersebut dibuat oleh programmer luar negeri atau dibuat oleh programmer dalam negeri tapi dengan menggunakan API (Aplication Programmer Interface) buatan programmer luar negeri yang tentu saja belum tentu sesuai dengan cara penentuan bulan Hijriyyah yang berlaku di Indonesia.

Contoh, di aplikasi bulan Hijriyyah yang saya pasang. Aplikasi ini punya dua metode yang biasa digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriyyah, yaitu Hisab dan Rukyat. Ketika saya melihat awal bulan Muharram tahun ini, jika menggunakan metode Hisab, maka tanggal 1 Muharram jatuh pada tanggal 31 Agustus. Jika menggunakan metode Rukyat, maka tanggal 1 Muharram jatuh pada tanggal 1 September. Jadi kalender di Indonesia di bulan Muharram ini cocok dengan metode Rukyat di aplikasi tersebut. Tapi jika mundur satu bulan ke belakang, jika menggunakan metode Hisab, 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 2 Agustus. Sedangkan jika menggunakan metode Rukyat, oleh aplikasi ini bulan dianggap belum terlihat. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 3 Agustus. Dan kalender yang berlaku di Indonesia menyebutkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah adalah tanggal 2 Agustus. Artinya, di aplikasi ini bulan Dzulhijjah di kalender di Indonesia cocok dengan metode Hisab, bukan Rukyat seperti di bulan Muharram.

Sekarang pertanyaannya, jika di kalender Indonesia bulan Dzulhijjah cocok dengan metode Hisab sedangkan bulan Muharram cocok dengan metode Rukyat, ketika Anda ingin mengonversi tanggal Masehi beberapa tahun lalu atau puluhan tahun lalu ke tanggal Hijriyyah, metode mana yang akan Anda gunakan? Apakah akan tebak-tebak buah salak? Jawabannya tentu tidak bisa seperti itu.

Di sinilah perlunya kita mengerti sedikit ilmu astronomi jika kita ingin mengonversi bulan Masehi ke Hijriyyah atau sebaliknya. Minimal mengerti cara menggunakan aplikasi astronomi untuk mengetahui bulan baru yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Jadi ketika kita mengonversi tanggal Masehi ke Hijriyyah, kita bisa memeriksa apakah benar tanggal 1 dari bulan hasil konversi sudah sesuai dengan ketentuan.

Saya tahu ilmu astronomi itu ilmu dunia, tapi tidak haram mempelajari ilmu dunia. Malah dalam Al-Quran Alloh memerintahkan kita untuk mempelajarinya. Karena sunnatulloh, selama kita hidup di dunia kita tidak akan bisa lepas dari hukum-hukum dunia (atau disebut juga hukum alam), yang artinya kita perlu mempelajari ilmunya. Dalam beberapa ayat Al-Quran Alloh berfirman yang isinya kurang lebih bahwa Alloh menurunkan hujan, kemudian dari hujan tersebut Alloh menghidupkan tumbuh-tumbuhan... Jika kita menyadarinya, firman Alloh tersebut merujuk pada sebuah cabang ilmu yang biasa kita pelajari di sekolah umum yang adalah ilmu dunia. Bisa dibayangkan jika orang Islam tidak mau mempelajari ilmu astronomi karena menganggap ilmu dunia tidak perlu dipelajari, jadwal sholat umat Islam dan awal bulan Hijriyyah akan ditentukan oleh non muslim. Ini tidak masuk akal.

Saya teringat seorang ulama di masa kerajaan Otoman Turki bernama Said Nursi. Beliau hidup di masa peralihan dari kerajaan Otoman menuju Republik Turki. Ketika beliau ditanya kenapa umat Islam di masa sekarang mengalami kemunduran. Beliau menjawab salah satu alasannya adalah karena umat Islam sudah tidak mau lagi mempelajari hukum-hukum dunia. Sedangkan orang-orang non muslim, walaupun mereka tidak beriman, tapi mereka melaksanakan perintah Alloh dalam Al-Quran. Sehingga di masa sekarang, Alloh mengunggulkan mereka dari umat Islam.

Ketika mereka sudah sanggup membuat senjata otomatis, bom atom atau bom nuklir. Kita melawannya dengan bambu runcing, bom molotov atau bom panci. Sesuai dengan sunnatulloh, senjata otomatis, bom atom atau bom nuklir pasti akan mengalahkan bambu runcing, bom molotov atau bom panci. Hanya para wali atau yang derajatnya lebih tinggi saja yang bisa melakukan sebaliknya.

Di dalam dunia kedokteran, "bapak kedokteran modern" adalah seorang muslim bernama Ibnu Sina (orang barat menyebutnya dengan Avicenna). Tetapi sekarang ilmu kedokteran dikuasai oleh non muslim. Orang Islam cukup jadi dokter atau perawat saja dan menggunakan resep buatan orang lain sebagai rujukan. Akibatnya ketika muslim Indonesia yang ingin beribadah haji diwajibkan melakukan vaksin meningitis, vaksin yang digunakan adalah vaksin buatan orang lain yang tidak mengerti (atau pura-pura tidak mengerti) tentang najis. Sehingga vaksin yang mereka buat dibuat dari bahan-bahan yang najis. Begitu juga ketika beberapa waktu lalu anak-anak harus melakukan imunisasi Rubella, vaksin yang digunakan ternyata juga dibuat dari bahan yang najis. Jika yang menguasai ilmu kedokteran adalah muslim, saya yakin vaksin-vaksin tersebut akan dibuat dari bahan yang tidak najis. Padahal kita sebagai muslim harus sebisa mungkin menghindari memasukkan barang najis atau tidak halal ke dalam tubuh kita supaya otak dan hati kita tidak beku yang membuat kita tidak bisa lagi berpikir seperti seharusnya seorang muslim berpikir.

Begitu juga di dunia IT. Sekarang konten-konten yang beredar di komputer, ponsel atau tablet lebih banyak aplikasi atau permainan buatan non muslim. Saya pernah melihat sebuah permainan perang-perangan yang tokohnya adalah perempuan yang memperlihatkan auratnya, walaupun sebenarnya tidak masuk akal seorang prajurit berperang hanya menggunakan pakaian dalam. Seandainya yang menguasai ilmu komputer lebih banyak muslim, maka konten-konten yang beredar akan lebih banyak konten islami yang tentu lebih banyak manfaat daripada bahayanya.

Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri, Anda bisa saja beranggapan seorang muslim cukup belajar ilmu syariat saja, tidak perlu repot-repot mempelajari ilmu dunia, karena rezekinya sama saja. Tapi jika Anda memikirkan umat Islam secara keseluruhan, sebaiknya Anda tidak seperti itu. Karena mempelajari ilmu tidak melulu berhubungan dengan masalah rezeki, ada hal yang jauh lebih mulia daripada hanya sekedar mengurusi isi perut.

Said Nursi pernah berkata:
"Saya bisa menanggung penderitaan saya sendiri, tetapi penderitaan akibat bencana yang menyeret agama dan umat Islam telah menghimpit saya. Setiap pukulan ke dunia Islam terasa terlebih dahulu menghujam ke hati saya. Itulah mengapa saya begitu terguncang."


Beliau juga berkata:
"Saya tidak peduli dengan Surga dan tidak takut pada Neraka. Asalkan keimanan negara saya aman, dibakar di neraka pun saya tidak peduli. Sebab, meskipun tubuh saya terbakar, hati saya seakan-akan berada di taman mawar."


Menjadi bukti bahwa beliau lebih memikirkan umat daripada dirinya sendiri.

Dan beliau yang memiliki ilmu dunia dan ilmu syariat/akhirat yang begitu luar biasa, ketika wafat hanya memiliki harta berupa sehelai surban, sepotong pakaian dan uang 20 Lira yang jika dikonversikan dengan kurs sekarang hanya senilai sekitar 50.000 Rupiah.

Minggu, 08 September 2019

Memindahkan /tmp ke tmpfs

Secara baku, direktori /tmp di openSUSE berada dalam sebuah subvolume. Karena secara baku, filesystem yang digunakan oleh openSUSE adalah BtrFS. Keuntungan dari lokasi /tmp berada di sebuah subvolume adalah kita tidak akan kehabisan ruang ketika kita bekerja dengan aplikasi pembuat berkas ISO seperti disk burner, aplikasi editor video atau aplikasi animasi seperti Blender.

Tapi bagi pemilik SSD yang sedikit paranoid karena banyaknya proses write ke direktori /tmp yang bisa mempercepat habisnya usia SSD, Anda bisa memindahkan direktori /tmp tersebut ke tmpfs. Caranya buat symlink /usr/share/systemd/tmp.mount di /etc/systemd/system/ dengan perintah;

su -c "ln -s /usr/share/systemd/tmp.mount /etc/systemd/system/tmp.mount"

Setelah itu Anda bisa menghapus subvolume /tmp dari YaST >> Partitioner, lalu restart komputer.